A story in Lauberte Waterfall

Saat ini gue sedang dalam perjalanan ke air terjun “Lauberte” di daerah Langkat, Sumatera Utara. Oke bagi yang heran kenapa gue sok gaul banget pake ‘loe-gue’, ini karena biar lebih akrab aja hehe *kenapa gue ngomongnya makin ngelantur ya*

Dalam catatan gak penting gue ini, gue pengen menuliskan hal yang penting *menurut gue*.

Pertama, gue berangkat bareng teman-teman perkumpulan yayasan amal yang gue ikutin. Di Indonesia, yayasan ini cukup dikenal publik dan memiliki stasiun TV khusus mengabarkan tentang kegiatan yayasan kami (mungkin akan gue bahas di post gue yang lainnya nanti). Kebetulan kami semua adalah muda-mudi yang berkegiatan di salah satu yayasan amal di Indonesia. Gue gak akrab sama teman-teman gue yang ini. Gue ikut karena katanya sudah di sisakan tempat sama teman gue. Karena gue juga lagi pengen jalan-jalan, akhirnya gue ikut aja.

Kedua, ternyata jalan yang harus kami tempuh untuk sampai ke Air Terjun ‘Lauberte’ tidak terlalu sulit karena gue orang yang bisa turun dengan mudah. Karena di dataran yang menurun, yang dibutuhkan cuma kekuatan kaki menurut gue. sedangkan pas naik, yang dibutuhkan kekuatan nafas *ini yang gue gak punya*. Setiap gue mendaki pasti gue uda kecapekan di setengah jalan. Dan jalan yang kami tempuh pertama dimulai dengan jalan kaki, setelah melewati jalan setapak, kami harus menyebrangi sungai yang diatasnya hanya diletakkan 3 batang besi dan 2 batang kayu. Karena jarak kayu yang tidak terlalu rapat dan tidak adanya tali pengaman, kami harus berjalan sambil melihat bawah dan hal itu cukup memicu adrenalin kami. Lalu kami juga harus menuruni tangga kayu yang berada dibagian samping jurang lalu menuruni jurang menggunakan tali dan menyebrangi sungai yang arusnya deras karena hanya berjarak sekitar 1km dari air terjun dan memanjat batu batu di sekitar sungai agar sampai di air terjun. Pertama kali sampai di air terjun, kita akan merasakan angin yang berhembus keras dan air yang memercik. Air di bawah air terjun sangat dingin dan menyegarkan. Di samping air terjun ada sebuah mata air dari pegunungan yang airnya dingin dan segar.

Ketiga, hujan saat mendaki benar- benar menyebalkan. Gue yang kesulitan mendaki, harus mendaki saat hujan dan tanah licin karena basah sangat menyebalkan, belum lagi saat harus menaiki tangga kayu yang hanya dipaku dan diikat tali. Rasanya seperti tangan dan kaki gemetaran karena sudah kehilangan kekuatan untuk memanjat, tapi tetap harus dipaksa berjalan karena langit mulai gelap dan hujan membuat kami mau tidak mau harus berjalan terus. Pengalaman yang tak terlupakan dan menyenangkan karena disana kita melihat kerjasama, kesetiakawanan, toleransi dan kesabaran. Tapi , gue malu juga merepotkan orang karena mereka nungguin gue pelan-pelan mendaki.

Keempat, hari itu gue juga merasakan banyak pengalaman pertama. Mulai dari pertama kali memanjat tebing dengan tali. Pertama kali menangkap 2 ekor lintah yang menghisap darah gue. Pertama kali menaiki tangga yang hanya berupa kayu yang di paku dan diikat dengan tali agar kuat. Pertama kali berjalan antara 2 batang besi di atas sungai. Pertama kali berjalan diatas bambu yang licin di samping jurang. Pertama kali merasakan sensasi melihat kebawah dari jurang ternyata sangat membuat pusing dan ngeri. Juga pertama merasakan air minum mineral alami dari hutan yang tanpa kimia. Pertama kali makan nasi bungkus sambil duduk di bebatuan di sungai (nasi bungkusnya enak, tapi gue juga ga tau belinya dimana). Pertama kali merasa lelah tapi tetap bersemangat untuk ikut berpetualang. Mungkin apa yang gue rasakan berbeda dengan apa yang orang lain rasakan. Tetapi gue tetap berharap setelah pulang dari sana, kami tetap dapat berkumpul dan bercanda seperti saat kami di sana. Okee, sekarang gue lagi di kantor. Kembali ke rutinitas semula bekerja dan kuliah sampai petualangan yang selanjutnya. Rutinitas yang menyenangkan dan menyebalkan sekaligus.

Advertisements